Langsung ke konten utama

Artikel Menulis




“ MENULIS BERSAMA”
PADA PEMBELAJARAN MENULIS CERPEN
Oleh Rumasi Pasaribu[1]

            Menulis, bagi sebagian besar siswa merupakan sebuah masalah. Tak hanya siswa, gurupun terkadang mengalami berbagai kendala dalam menulis. Dimulai dari mencari ide atau inspirasi, menuangkan ide dalam kalimat pertama tulisan, mengembangkan tulisan menjadi paragraf-paragraf, kesulitan mencari judul, hingga menyunting tulisan menjadi sebuah tulisan yang padu, logis, dan sesuai dengan EYD. Semua masalah ini menjadi momok yang menakutkan bagi pembelajaran menulis kita.
            Banyak teori dan cara praktis yang dilakukan oleh para pendidik maupun para ahli untuk meningkatkan kemampuan menulis siswa. Di toko buku, banyak buku teori praktis mengatasi kesulitan dalam menulis, baik fiksi maupun nonfiksi. Akan tetapi, pada praktiknya menulis tetap saja sesuatu yang sulit. Ditambah lagi masih banyak guru yang mengajarkan materi menulis, terutama menulis cerpen dengan cara yang biasa, yakni memberi contoh tulisan atau meminta siswa menulis di buku latihannya setelah diberikan materi tentang menulis cerpen.
            Terkait kesulitan mengajarkan materi menulis ini pada siswa, penulis akan membagi pengalaman penulis mengajarkan materi menulis cerpen pada siswa di sekolah. Pada pembalajaran ini, penulis menerapkan cara pembelajaran yang menarik, inovatif, bervariasi, agar materi pelajaran menulis tidak terkesan biasa atau monoton. Bukankah tulisan yang baik bisa dihasilkan dari cara pembelajaran yang menyenangkan dan menarik? Pada pembelajaran ini, penulis menyebutnya dengan pembelajaran menulis bersama. Pembelajaran seperti ini, dalam teori kependidikan disebut dengan pembelajaran kooperatif (cooperative learning).
            Menurut Kagan, pembelajaran kooperatif adalah strategi pengajaran yang sukses di mana tim kecil, masing-masing dengan siswa dari tingkat kemampuan yang berbeda, menggunakan berbagai aktivitas belajar untuk meningkatkan pemahaman mereka tentang suatu subjek. Setiap anggota tim bertanggung jawab tidak hanya untuk belajar apa yang diajarkan tetapi juga untuk membantu rekan belajar, sehingga menciptakan suasana prestasi bersama-sama. (Aristha Serenade, 20II:9). Senada dengan Kagan, Nurulhayati mengatakan bahwa pembelajaran kooperatif merupakan strategi pembelajaran yang melibatkan partisipasi siswa dalam satu kelompok kecil untuk saling berinteraksi (Nurulhayati dalam Rusman, 200:203). Jadi, pada intinya pembelajaran kooperatif merupakan strategi pembelajaran siswa secara berkelompok, dengan mengutamakan kerjasama untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Unsur-unsur dasar pembelajaran kooperatif adalah sebagai berikut:
a.         Siswa dalam kelompoknya haruslah beranggapan bahwa mereka sehidup sepenanggungan bersama.
b.        Siswa bertanggung jawab atas segala sesuatu di dalam kelompoknya, seperti milik mereka sendiri.
c.         Siswa haruslah melihat bahwa semua anggota dalam kelompoknya memiliki tujuan yang sama.
d.        Siswa haruslah membagi tugas dan tanggung jawab yang sama di antara anggota kelompoknya.
e.         Siswa akan dikenakan evaluasi atau diberikan hadiah/penghargaan yang juga akan dikenakan untuk semua anggota kelompok.
f.         Siswa berbagi kepemimpinan dan mereka membutuhkan keterampilan untuk belajar bersama selama proses belajarnya.
g.        Siswa diminta mempertanggungjawabkan secara individual materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif.
            Kembali pada cara mengatasi kendala-kendala dalam menulis, bertolak pada pembelajaran kooperatif, penulis menggunakan kiat menulis bersama anggota kelompok untuk menulis cerita pendek. Berdasarkan pengalaman penulis, pembelajaran seperti ini terbilang efektif dan berhasil. Bagaimana pembelajaran menulis bersama ini dilakukan?
            Hal pertama yang dilakukan guru adalah membentuk siswa menjadi beberapa kelompok. Masing-masing kelompok terdiri dari 5-6 siswa. Dalam satu kelompok, siswa diminta duduk melingkar. Setelah siswa dinilai siap mengikuti pembelajaran, siswa diminta mencari satu tema tulisan yang ingin mereka kembangkan serta membuat satu kalimat pembuka di buku masing-masing. Waktu mereka sekitar 5-10 menit. Berkaitan dengan tema, siswa diminta untuk menuliskan apa saja yang terlintas di kepalanya. Langkah selanjutnya adalah masing-masing siswa memberikan buku latihan yang sudah berisi tema dan satu kalimat pembuka pada teman yang duduk di sebelah kirinya. Siswa yang menerima buku dari teman yang duduk di sebelah kanannya diminta menyambung kalimat sebelumnya, dengan catatan kalimat tidak keluar dari tema. Waktunya sekitar 3-5 menit saja. Lakukan kegiatan ini berulang-ulang sehinggga siswa berhasil membuat kalimat yang cukup banyak atau beberapa paragraf. Secara keseluruhan, kegiatan ini dapat digambarkan sebagai berikut:



            Catatan bagi guru dalam pembelajaran ini adalah setelah waktu menyambung kalimat berakhir (antara 3-5 menit), semua siswa harus menyerahkan buku yang ada di hadapannya pada teman di sebelah kirinya. Guru dapat mengatakan kepada siswa, “Sekarang, berikan buku yang ada di hadapan kalian pada teman yang duduk di sebelah kiri kalian!” Dengan demikian, pembelajaran menjadi teratur, kompak, dan mau tidak mau, siswa yang tidak pandai menulis pun akan terobsesi menyambung tulisan teman sebelumnya yang pada saat itu ada di hadapannya.
Dari pengalaman penulis ketika mengajarkan pembelajaran menulis cerpen secara bersama-sama ini, terlihat bahwa kelas menjadi lebih hidup dibandingkan bila siswa diberi tugas menulis secara individu. Selama pembelajaran, sebelum menyambung kalimat yang ditulis temannya, tentu siswa harus membaca terlebih dahulu tulisan sebelumnya. Pada saat inilah, siswa akan tersenyum bahkan tertawa membaca kalimat demi kalimat yang mereka buat bersama-sama. Ternyata, banyak sambungan tulisan yang lucu, nyleneh, atau tidak nyambung. Tapi di luar itu semua, secara bersama-sama siswa telah menghasilkan satu tulisan. Masing-masing siswa telah menciptakan sebuah cerita yang berbeda-beda.
 Setelah menulis beberapa paragraf, karya yang diciptakan bersama-sama ini dilanjutkan oleh siswa secara individu menjadi tulisan yang padu dan utuh. Bila satu kali pertemuan tidak cukup, maka siswa ditugaskan melanjutkan sekaligus menyunting cerpennya di rumah. Siswa boleh mengambil sebagian atau seluruh ide yang telah dibuat bersama, serta memperbaiki kesalahan ejaannya.
Pembelajaran menulis cerpen di atas, merupakan cara pembelajaran yang digunakan untuk mengatasi beberapa kesulitan dalam menulis, yaitu kesulitan memulai menulis dan kebiasaan menunda-nunda tulisan, Siswa yang kesulitan memulai membuat tulisan akan terpacu menulis karena waktu mereka dibatasi hanya 3-5 menit. Selain itu, teman yang duduk di sebelahnya juga akan memintanya cepat menulis agar siklus pertukaran tulisan dalam kelompok tetap berjalan atau tidak terhambat. Dengan demikian, dua masalah utama dalam menulis teratasi.
Lalu, bagaimana dengan kesulitan menjabarkan cerpen agar menjadi cerpen yang utuh, sedangkan bersama kelompok siswa hanya membuat cerpen 2-3 paragraf saja?
Untuk mengatasi masalah di atas, siswa dapat mendiskusikan dengan teman sekelompoknya. Setelah selesai menulis sebanyak 2-3 paragraf, siswa secara bergantian diminta membaca semua tulisan yang telah mereka buat. Hasil tulisan mereka tentu saja tidak ada yang sama. Pada saat inilah, siswa bisa meminta pendapat temannya tentang kelanjutan cerita tersebut. Lalu, mereka diminta melanjutkan cerpen tersebut secara individu, sesuai dengan tema yang mereka buat sebelum menulis. Jadi, kesulitan menjabarkan cerpen dapat diatasi siswa.
Lantas apakah penulisan siswa disebut sebagai karya bersama-sama? Tentu tidak! Tugas siswa menyambung kalimat demi kalimat pada pembelajaran sebelumnya hanyalah membantu siswa yang kesulitan memulai sebuah tulisan dan menunda-nunda kegiatan menulis. Jadi, kendala kesulitan memulai sebuah kalimat awal bisa teratasi. Ditambah lagi siswa diberi kesempatan menyunting karangan. Meski ada kalimat teman-temannya yang diambil siswa dalam tulisannya, secara keseluruhan tulisan siswa dari awal sampai terakhir tetap disebut karya siswa secara individu.
Pembelajaran menulis secara bersama-sama ini, dinilai mampu mengatasi kesulitan-kesulitan siswa dalam menulis. Utama lagi, bagi siswa yang belum terbiasa menulis. Meskipun pada akhirnya tulisan siswa tidak seperti penulis ternama, tapi setidaknya siswa yang telah merampungkan sebuah cerpen hingga selesai tetap harus diapresiasi dan diberi penghargaan. Ini sesuai dengan salah satu unsur dasar pembelajaran kooperatif, yakni pemberian penghargaan. Sebab, sebelum penulis menerapkan pembelajaran menulis secara bersama-sama ini, seringkali didapati siswa yang mengambil tulisan orang lain dan mengubah nama penulisnya menjadi namanya (memplagiat). Pada pembelajaran menulis secara bersama-sama, sikap curang seperti ini dapat diatasi karena pemikiran siswa secara bersama-sama dalam hitungan menit pada jam belajar di sekolah tentu jauh dari buku bacaan atau referensi cerpen. Dengan demikian, tulisan menjadi lebih alami dan asli. Jadi, pembelajaran ini sekaligus membentuk karakter jujur pada diri siswa. Semoga!***

DAFTAR PUSTAKA
Rusman. 20II. Model-model Pembelajaran: Mengembangkan Profesionalisme Guru. Jakarta: Rajawali Pers.

Serenade, Aristha. http://aristhaserenade.blogspot.com/20II/I0/teori-belajar-dan-model-pembelajaran-.html. Diunduh pada tanggal 7 Desember 20I2.





[1]  Penulis adalah guru Mata Pelajaran Bahasa Indonesia di SMP Negeri 16 kota Bengkulu beralamat di Jalan A. Rahman Kelurahan Betungan Kota Bengkulu 38215, e-mail: rumasip@yahoo.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerpen berjudul "Bendera"

CERPEN BENDERA  KARYA RUMASI PASARIBU BENDERA Oleh: Rumasi Pasaribu             Kalau kau susuri gang dan tiba di ujung jalan, maka akan kau lihat bendera itu berkibar-kibar. Bukan di kantor atau instansi pemerintah. Bukan di sekolah. Bukan di taman makam pahlawan. Bukan di gedung kabinet. Juga bukan di rumah pejabat. Tapi hanyalah di sebuah rumah sederhana yang empunya baru saja pindah. Bendera yang berkibar-kibar itu juga bukan dipasang karena negeri sedang berkabung. Bukan dikibarkan karena sedang memperingati kemerdekaan republik ini. Bukan juga ditancapkan karena sedang ada pawai atau perayaan-perayaan. Bukan! Dan aku hanya ternganga ketika hari-hari berikutnya bendera itu tetap melambai-lambai. Tiada henti selagi angin masih berhembus. Tiada turun walau gelap terhunus. Bendera itu terus berkibar tak kenal waktu.             Aku yang merasa aneh sekaligus...

Menulis cs Memasak Roti

Menulis cs Memasak Roti Menulis dan memasak roti, pastinya adalah dua kegiatan yang berbeda. Tapi meskipun berbeda, tak bisa dipungkiri bahwa kedua-duanya adalah kegiatan yang harus dilakukan terus-menerus. Agar menghasilkan tulisan yang baik, tentu seseorang harus terus menulis. Begitupun kalau ingin menghasilkan roti yang gurih dan lezat, tentu seseorang harus sering memasak roti. Sebagai proses, tentu ada fenomena-fenomena yang dihadapi pembuat roti atau si penulis. Ketika memasak roti hari ini, bisa jadi rotinya bantat. Esoknya, ternyata roti masih mentah meskipun di luar warnanya telah berubah coklat dan tampak matang. Bahkan lusa, roti yang dimasak tak mengembang karena kekurangan air dalam adonan. Lain waktu, roti mengembang dengan sempurna sehingga hati koki bahagia, tapi ternyata beberapa waktu berikutnya kue kempes dan berkerut bentuknya. Ah, begitu banyaknya alasan yang membuat seorang koki pemula akhirnya menghentikan ujicoba membuat roti yang gurih dan lezat! Seor...