Munas Sastrawan Indonesia 2016:
Benahi Sastra dan Sastrawan dari
Daerah hingga Mendunia
Oleh Rumasi Pasaribu
Pekan ini, Balai
Bahasa melaksanakan perhelatan besar di hotel Bidakara, Jakarta Selatan. Acara
yang diikuti sastrawan se-Indonesia ini diadakan Balai Bahasa dan dilaksanakan
selama tiga hari. Banyak sastrawan terkenal yang hadir di sana. Sebut saja
Taufik Ismail, Remy Sylado, Putu Fajar Arcana, Maman Suherman, Maman S.
Mahayana, Dino Umahuk, Helvi Theana Rosa, Isbedy Setiawan, Ahmadun Yosi Herfanda,
Zawawi Imron, dll. Penulis bersama rekan Mildaini yang berkesempatan hadir di
sana atas penunjukan Kantor Bahasa Bengkulu benar-benar merasa beruntung sebab
bertemu secara langsung dengan sastrawan Indonesia yang selama ini hanya dapat membaca
karya-karyanya saja.
Gambar 1. Foto bersama di lobby
hotel sebelum check in Hotel
Bidakara, Jakarta
Acara
Musyawarah Nasional Sastrawan Indonesia yang dilaksanakan tanggal 18-20 Oktober
2016 ini diikuti dengan tertib dan khidmat oleh seluruh peserta. Seusai
pembukaan di hari pertama, acara diisi dengan Sidang Pleno I yang diisi oleh
Gufran A. Ibrahim, Remy Sylado, dan Putu Fajar Arcana. Gufran A. Ibrahim, dari
Pusat Pembinaan Bahasa menyampaikan program kesastraan Balai Bahasa, yaitu
penghargaan kesastraan, bengkel sastra bagi guru dan siswa, pengiriman
sastrawan berkarya, dan penyusunan pangkalan data sastrawan dan komunitas
pegiat sastra. Selanjutnya, Remy Sylado memaparkan tentang memasarkan sastra
Indonesia ke luar negeri. Untuk itu, Indonesia harus memiliki penerjemah yang
mengerti “bahasa rasa” dan “bahasa pikiran”. Tidak hanya penerjemah yang hanya
menerjemahkan tanpa memahami bahasa sastra itu sendiri.
Setelah Remy Sylado memaparkan ide
dan pemikirannya mengenai sastra Indonesia di luar negeri, Putu Fajar Arcana
menyampaikan perihal sastra yang berebut ruang hidup. Menurutnya, sastrawan
harus mau menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Ia menilai, Horison yang
sudah pindah ke jalur online adalah
keputusan yang tepat di saat koran dan majalah cetak saat ini sedang dalam
posisi “tiarap”.
Gambar 2. Penulis dan Remy Silado
Setelah diadakan sesi tanya jawab,
beberapa sastrawan mengajukan pertanyaan atau memberi tanggapan, diantaranya
Bambang Eka Prasetya (sastrawan dari Jawa Tengah) Taufik Ismail, dan Ahmadun
Yosi Herfanda. Ada yang menggelitik penulis saat Taufik Ismail menyampaikan
tanggapannya. Taufik Ismail memrotes pernyataan Remy Sylado yang mengatakan
bahwa Horison kuno dan ndeso. Menurut
Taufik Ismail, ini tidak patut. Sebab majalah sastra yang bertahan hidup hingga
50 tahun hanya majalah Horison. Horison cetak tutup, namun dilanjutkan dengan
Horison digital. Selain itu, Horison dalam 5 tahun terakhir telah membentuk
sekitar 250-an orang sastrawan. Ini adalah kontribusi Horison terhadap
perkembangan sastra Indonesia.
Kontribusi Horison yang lain,
menurut Taufik Ismail adalah Horison telah menerbitkan 80 buku kumpulan puisi,
cerpen, dan esai, dan 2 buku untuk anak-anak sekolah yang berjumlah 5.000
eksemplar yang dibagi cuma-cuma ke 4.500 perpustakaan di Indonesia. Dana
mencetak buku berasal dari Fund Fondation.
Ini adalah bukti bahwa Horison tidak kuno
dan ndeso. Setelah Taufik Ismail menyampaikan
tanggapannya, Remy Sylado menjawab bahwa ini adalah kritikannya untuk Horison. Karya
sastra yang hebat akan berkembang kalau dikritik.
Hari kedua Musyawarah Nasional
Sastrawan Indonesia, acara dilanjutkan dengan Sidang Pleno II. Pada sidang ini,
narasumber adalah Dadang Sunendar, Maman S. Mahayana, Nirwan Dewanto, dan Dino
Umahuk. Dadang Sunendar selaku perwakilan dari Badan Bahasa menyampaikan bahwa
Pusat Pengembangan dan Perlindungan Badan Bahasa akan meluncurkan ensiklopedia
sastra moda daring. Pengembangan sastra Indonesia akan dilakukan melalui
penelitian, penerjemahan, kodifikasi bahasa dan sastra, pengalihan bahasa, dan
publikasi. Sementara Pusat Pembinaan Bahasa akan melaksanakan pembinaan bahasa
dan sastra Indonesia melalui pembelajaran.
Gambar 3. Sidang Pleno 2
Maman Suherman
memaparkan tentang Gerakan Literasi Sastra. Menurutnya, persoalan ideologis
masih menghantui sastrawan Indonesia. Perpustakaan harus diberdayakan, bukan
hanya dengan memperbanyak jumlahnya saja. Sementara itu, Nirwan Dewanto yang
memaparkan makalah berjudul “Industri Buku Sastra dan Minat Baca Masyarakat”,
mengimbau agar sastrawan memanfaatkan sarana elektronik. Penulis yang
memanfaatkan media sosial, tulisannya di tweet atau facebook akan memberi nilai
jual. Penulis tak perlu membayar iklan untuk promosi sebab membayar iklan
terbilang mahal.
Sidang Pleno II masih dilanjutkan
dengan penyampaian materi oleh Dino Umahuk. Menurut penyair Ambon ini, di
Maluku sastra puisi tidak hanya dibacakan, tetapi dibuat musikalisasi. Ini adalah
upaya agar sastra membudidaya dan menjadi karakter masyarakat.
Sehubungan
dengan kegalauan penyair yang memilah penyair hebat dan penyair lokal, Dino
Umahuk menyatakan bahwa untuk menjadi penyair tidak harus ke Jakarta, untuk
menjadi penyair tidak harus dimuat di Kompas, menjadi penyair karya tidak harus
dibuat di koran-koran besar. Tulis saja apa yang ada, Anda akan menjadi penyair!
Pernyataan ini jelas menjadi penyemangat untuk penulis pemula di negeri ini. Oh
ya, satu hal yang membuat saya—juga peserta lainnya, barangkali—bahagia adalah
seluruh peserta Munas Sastrawan Indonesia mendapatkan satu buku puisi Dino
Umahuk berjudul “Laut Maluku Lekuk Tubuhmu”.
Gambar 4. Suasana Munas Sastrawan Indonesia
Setelah istirahat dan
makan siang, acara dilanjutkan dengan Sidang Komisi Pembinaan yang dipimpin Dwi
Estina dan Sidang Komisi Pengembangan yang dipimpin Sastri Sunardi. Pada sidang
ini, peserta dibagi menjadi dua kelompok, kemudian masing-masing peserta
menyampaikan pendapatnya guna menyampaikan cara untuk meningkatkan pembinaan
dan pengembangan bahasa sastra Indonesia. Setelah berdiskusi beberapa jam,
peserta diminta beristirahat untuk mempersiapkan diri untuk malam keakraban.
Pada malam keakraban ini, tampil musikalisasi puisi dari salah satu SMA di
Jakarta. Selain itu, sebagian besar penyair membacakan puisinya. Namun, saya
mencatat dua pertunjukan atraktif puisi di malam keakraban ini, yaitu pembacaan
puisi yang ditampilkan Bambang Eka Prasetya dan D. Zawawi Imron. Selain itu,
ada juga Fanny Jonathans, yang sebelum membacakan puisi menyanyikan sebuah lagu
dengan suara merdu. Ada juga Pakcik Kario dari Bangka Belitung yang berpantun
di atas panggung.
Gambar 5. Utusan sastrawan asal Bengkulu (Mildaini dan Rumasi Pasaribu)
Hari terakhir, kegiatan Musyawarah
Nasional Sastrawan Indonesia diisi dengan Sidang pleno III. Pada sidang ini,
Komisi Pembinaan dan Pengembangan menyampaikan hasil diskusi sehari sebelumnya.
Komisi Pembinaan menyampaikan 19 butir rekomendasi. Beberapa diantaranya adalah
(1) pengajaran sastra di sekolah perlu mendapat jumlah waktu yang proporsional
dengan lebih menekankan pada apresiasi daripada pengetahuan tentang sastra, (2)
Balai Bahasa dapat membantu memfasilitasi penggalakan penerbitan karya sastra
sastrawan, (3) Pertumbuhan dan perkembangan sastra dibarengi dengan adanya
kritik sastra yang sehat, dinamis, dan kreatif, dan (4) Pemerintah perlu
memfasilitasi pembuatan pangkalan data sastrawan Indonesia. Sementara itu,
sidang pengembangan menghasilkan 16 rekomendasi yang dibagi menjadi 13
rekomendasi untuk Badan Bahasa dan 3 rekomendasi untuk pemerintah dan lembaga
terkait. Rekomendasi hasil sidang pengembangan tersebut diantaranya, (1) Musyawarah
Sastrawan Indonesia diusulkan agar diadakan setahun sekali dan diganti menjadi
MUNSI (Musyawarah Nasional Sastra Indonesia), (2) Membuat program kegiatan
sastra dengan mensinergikan antara balai/kantor bahasa, sekolah, perpustakaan,
taman bacaan, dan sastrawan, dan (3) Pemberian penghargaan kepada sastrawan
terkemuka baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal.
Hasil sidang telah dibacakan. Ketua
sidang menerima masukan dari peserta lain. Salah satu masukan yang diberikan
adalah agar pada saat diadakannya MUNSI di tahun mendatang hendaknya tidak ada
pemilahan sastrawan terkenal dan sastrawan daerah, agar Pemerintah Pusat
mengetahui keluhan apa saja yang terjadi di daerah. Setelah penyampaian
tanggapan, acara diakhiri dengan penutupan dan berfoto bersama.
Gambar 6. Sastrawan
se-Indonesia setelah penutupan Munas Sastrawan Indonesia
Acara boleh saja selesai. Tapi kesan
bertemu dengan sastrawan se-Indonesia tentu tak mudah dilupakan. Semangat
menulis dan berkarya muncul sehingga memacu diri untuk berkarya lebih baik
lagi. Semoga hasil Musyawarah Nasional Sastrawan Indonesia dapat diwujudkan dan
pada akhirnya dapat meningkatkan minat masyarakat terhadap sastra, mewujudkan
sastrawan Indonesia yang mampu berkarya hingga di mancanegara, serta
memunculkan sastrawan-sastrawan hebat lainnya di daerah. Semoga!







Komentar
Posting Komentar