Menulis cs Memasak Roti
Menulis dan memasak roti, pastinya adalah dua kegiatan yang berbeda. Tapi meskipun berbeda, tak bisa dipungkiri bahwa kedua-duanya adalah kegiatan yang harus dilakukan terus-menerus. Agar menghasilkan tulisan yang baik, tentu seseorang harus terus menulis. Begitupun kalau ingin menghasilkan roti yang gurih dan lezat, tentu seseorang harus sering memasak roti.
Sebagai proses, tentu ada fenomena-fenomena yang dihadapi pembuat roti atau si penulis. Ketika memasak roti hari ini, bisa jadi rotinya bantat. Esoknya, ternyata roti masih mentah meskipun di luar warnanya telah berubah coklat dan tampak matang. Bahkan lusa, roti yang dimasak tak mengembang karena kekurangan air dalam adonan. Lain waktu, roti mengembang dengan sempurna sehingga hati koki bahagia, tapi ternyata beberapa waktu berikutnya kue kempes dan berkerut bentuknya.
Ah, begitu banyaknya alasan yang membuat seorang koki pemula akhirnya menghentikan ujicoba membuat roti yang gurih dan lezat!
Seorang penulis pun menemukan masalah yang sama. Hari ini tulisan tak selesai karena di tengah jalan kehabisan ide. Esoknya tulisan rampung, tapi isinya masih berantakan. Lusa tulisan selesai dan sempurna versi penulis, tapi ketika dikirimkan ke penerbit hingga lima bulan tiada kabar berita. Berkali-kali mengirimkan karya, tulisan tetap tidak dimuat dan penulis nelangsa.
Ah, begitu banyak alasan yang membuat seorang penulis pemula akhirnya menghentikan dirinya berkarya!
Kalau direnungkan dengan hati, sesungguhnya hakikat menjalani proses adalah pijakan awal untuk menghasilkan karya besar. Kegagalan-kegagalan sesungguhnya adalah jalan untuk menemukan kesempurnaan. Seringkali--bahkan hampir selalu--saat manusia telah lelah berjuang, Allah mengirimkan kabar gembira melalui jalan yang tak disangka-sangka. Di ujung pengharapan, Allah berikan kebahagiaan dan kejutan-kejutan yang tak pernah dibayangkan sebelumnya. Ini adalah hadiah atau berkah karena Ia menyukai hamba yang berjuang dan berusaha.
Percayalah, kalau kita sudah sering mencoba dan gagal, ada masanya di saat kita tak tahu lagi harus berbuat apa, Ia bisikkan jalan untuk kita. Bahkan dengan kemahaan-Nya, kita akan terbelalak dan terbengong-bengong dengan keajaiban-Nya. Misalnya, diusaha ketiga puluh membuat roti, ternyata hasil roti yang dibuat gurih dan lezat, lalu seseorang Ia kirimkan untuk memesan seribu roti pada kita. Atau bisa jadi, saat kita tak ada harapan akan diterbitkannya karya kita di surat kabar besar, eh, ternyata cerpen kita jadi juara di salah satu perlombaan yang kita ikuti. Tentu tak dapat dibayangkan ini semua sebab kitapun serasa ingin pingsan mendengarnya.
Jadi, tetap bersemangat dengan usaha kita. Kalaupun tak ada keajaiban di dunia, setidaknya Ia akan memberi penghargaan di akhirat nanti sebagai amal baik kita. Toh, kehidupan tak hanya selesai di sini, tapi sampai di alam berikutnya nanti.
Menulis dan memasak roti, pastinya adalah dua kegiatan yang berbeda. Tapi meskipun berbeda, tak bisa dipungkiri bahwa kedua-duanya adalah kegiatan yang harus dilakukan terus-menerus. Agar menghasilkan tulisan yang baik, tentu seseorang harus terus menulis. Begitupun kalau ingin menghasilkan roti yang gurih dan lezat, tentu seseorang harus sering memasak roti.
Sebagai proses, tentu ada fenomena-fenomena yang dihadapi pembuat roti atau si penulis. Ketika memasak roti hari ini, bisa jadi rotinya bantat. Esoknya, ternyata roti masih mentah meskipun di luar warnanya telah berubah coklat dan tampak matang. Bahkan lusa, roti yang dimasak tak mengembang karena kekurangan air dalam adonan. Lain waktu, roti mengembang dengan sempurna sehingga hati koki bahagia, tapi ternyata beberapa waktu berikutnya kue kempes dan berkerut bentuknya.
Ah, begitu banyaknya alasan yang membuat seorang koki pemula akhirnya menghentikan ujicoba membuat roti yang gurih dan lezat!
Seorang penulis pun menemukan masalah yang sama. Hari ini tulisan tak selesai karena di tengah jalan kehabisan ide. Esoknya tulisan rampung, tapi isinya masih berantakan. Lusa tulisan selesai dan sempurna versi penulis, tapi ketika dikirimkan ke penerbit hingga lima bulan tiada kabar berita. Berkali-kali mengirimkan karya, tulisan tetap tidak dimuat dan penulis nelangsa.
Ah, begitu banyak alasan yang membuat seorang penulis pemula akhirnya menghentikan dirinya berkarya!
Kalau direnungkan dengan hati, sesungguhnya hakikat menjalani proses adalah pijakan awal untuk menghasilkan karya besar. Kegagalan-kegagalan sesungguhnya adalah jalan untuk menemukan kesempurnaan. Seringkali--bahkan hampir selalu--saat manusia telah lelah berjuang, Allah mengirimkan kabar gembira melalui jalan yang tak disangka-sangka. Di ujung pengharapan, Allah berikan kebahagiaan dan kejutan-kejutan yang tak pernah dibayangkan sebelumnya. Ini adalah hadiah atau berkah karena Ia menyukai hamba yang berjuang dan berusaha.
Percayalah, kalau kita sudah sering mencoba dan gagal, ada masanya di saat kita tak tahu lagi harus berbuat apa, Ia bisikkan jalan untuk kita. Bahkan dengan kemahaan-Nya, kita akan terbelalak dan terbengong-bengong dengan keajaiban-Nya. Misalnya, diusaha ketiga puluh membuat roti, ternyata hasil roti yang dibuat gurih dan lezat, lalu seseorang Ia kirimkan untuk memesan seribu roti pada kita. Atau bisa jadi, saat kita tak ada harapan akan diterbitkannya karya kita di surat kabar besar, eh, ternyata cerpen kita jadi juara di salah satu perlombaan yang kita ikuti. Tentu tak dapat dibayangkan ini semua sebab kitapun serasa ingin pingsan mendengarnya.
Jadi, tetap bersemangat dengan usaha kita. Kalaupun tak ada keajaiban di dunia, setidaknya Ia akan memberi penghargaan di akhirat nanti sebagai amal baik kita. Toh, kehidupan tak hanya selesai di sini, tapi sampai di alam berikutnya nanti.
Komentar
Posting Komentar