AKU MASENJA, SEBUAH NOVEL TENTANG SEORANG GURU
Sudahkah teman-teman membaca novel berjudul “Aku Mesenja”?
Ya, novel pemenang I Lomba Menulis Novel Penerbit Araska Tingkat Nasional ini
telah terbit sejak Januari 2017 lalu. Dan sejak itu pula mulai beredar di
toko-toko buku, termasuk di Gramedia.
Saya sendiri, sejujurnya belum pernah melihat langsung buku
tersebut mejeng di toko buku. Beberapa teman mengirimkan foto mereka saat
berburu buku tersebut. Alhamdulilah, karunia Allah benar-benar tiada terkira. Membayangkannya
selama ini saja tak pernah. Meski mimpi tulisan tembus ke penerbit mayor yang
mencetak buku tanpa mengeluarkan biaya pernah saya lambungkan.
Tulisan yang dibuat sejak 2015 ini beberapa kali mengalami
revisi. Mengambil data tentang perkebunan di Bengkulu Utara kerap mengalami
kendala, sebab sedikit sekali informasi tentang kejadian di sana. Bahkan informasi
dari Google, juga tak melimpah. Namun dengan informasi yang saya dapatkan dari
browsing, sangat membantu dalam menggarap latar. Cerita dari beberapa orang—termasuk
teman yang mengajar di pelosok, turut membantu saya mengembangkan ide cerita.
Tulisan ini pernah saya coba kirimkan ke salah satu penerbit
mayor, dan tiga bulan kemudian mendapat penolakan. Saya tersenyum, lalu membaca
ulang cerita yang saya tulis. Ahayyy, tulisan yang masih berantakan memang. Maka
saya membaca banyak sekali novel, dan beberapa novel mengilhami. Sebut saja novel
Margareth Mitchel ”Lalu Bersama Angin” atau novel Herlinatiens “Garis Tepi Seorang
Lesbian” atau novel-novel Tere Liye, serta novel lainnya. Selain itu,
cerpen-cerpen Kompas juga Republika turut menambah ilmu tentang memilih kata
dalam menulis. Maka setelah mendapat banyak pelajaran dari novel-novel dan
cerpen-cerpen lain, saya merevisi novel yang semula berjudul “Catatan Hati Seorang
Guru” ini. Revisi tak hanya terjadi
sekali atau dua kali, bahkan hingga beberapa kali. Saat ada pengumuman lomba menulis
novel di Penerbit Araska, novel ini saya revisi untuk terakhir kali. Pada revisi
ini saya menambahkan dua bab di awal dan di akhir. Termasuk mengubah judul,
yang terilhami dari sebuah judul cerpen yang ada di buku kumcer FLS2N tahun 2015
yang dibawa suami pulang setelah mengikuti acara FLS2N tahun 2016 di Manado.
Demikianlah, sejatinya menulis pun mesti selalu dipelajari. Tak
hanya sekadar menulis sebagai kesenangan, tetapi kiat-kiatnya termasuk ‘misi’
penulis tetap harus selalu diasah. Hingga pada akhirnya, tulisan menjadi milik
kita sendiri.
Yuk, baca novelnya. Novel yang telah saya tulis dengan
kesungguhan untuk terus belajar. Dan kalianlah yang pantas menilainya.



Komentar
Posting Komentar