Langsung ke konten utama

Cerpen berjudul "Bendera"

CERPEN BENDERA 
KARYA RUMASI PASARIBU


BENDERA
Oleh: Rumasi Pasaribu

            Kalau kau susuri gang dan tiba di ujung jalan, maka akan kau lihat bendera itu berkibar-kibar. Bukan di kantor atau instansi pemerintah. Bukan di sekolah. Bukan di taman makam pahlawan. Bukan di gedung kabinet. Juga bukan di rumah pejabat. Tapi hanyalah di sebuah rumah sederhana yang empunya baru saja pindah.
Bendera yang berkibar-kibar itu juga bukan dipasang karena negeri sedang berkabung. Bukan dikibarkan karena sedang memperingati kemerdekaan republik ini. Bukan juga ditancapkan karena sedang ada pawai atau perayaan-perayaan. Bukan! Dan aku hanya ternganga ketika hari-hari berikutnya bendera itu tetap melambai-lambai. Tiada henti selagi angin masih berhembus. Tiada turun walau gelap terhunus. Bendera itu terus berkibar tak kenal waktu.
            Aku yang merasa aneh sekaligus heran betul-betul hendak mengenal pemilik rumah itu. Ini benar-benar langka. Dan aku ngeri ini salah. Dua minggu yang lalu ia telah menghadap dan menyampaikan perihal kedatangannya padaku. Sebagai pendatang baru, ia sudah tunaikan kewajibannya melapor kepada Ketua RT. Tapi waktu itu aku belum tahu persis apa-apa yang akan ia lakukan di rumahnya, pada rumahnya. Aku juga belum tahu kalau ia akan membuat tiang bendera permanen seperti di kantor lurah tempatku bekerja. Dan ia tak menyampaikan apa-apa kecuali mengatakan bahwa ia sekeluarga telah pindah rumah ke kawasanku. Hanya itu!
            Sempat kutanyakan pada tetangga sebelah rumahnya yang kerap salat jamaah di masjid, siapa pemilik rumah itu, pekerjaannya, tamu-tamunya, atau aktivitas di rumahnya. Tapi selain nama dan karakter Pak Hasyim—begitu namanya—yang agak tertutup, tetangganya itu tak begitu tahu pekerjaan atau aktivitas di rumah sebelah. Aku semakin penasaran dan ingin tahu.
              Hari ini, seusai salat ashar jamaah di masjid aku tak langsung pulang. Dari beranda masjid, kulihat bendera di pekarangan rumah di sudut gang itu jatuh di tiang, sebab tiada angin yang membuatnya melambai. Kususuri jalan, dan begitu tiba di pekarangan rumahnya aku tak langsung mengetuk pintu rumah yang terbuka, melainkan berdiri di bawah tiang bendera yang bayangnya jatuh ke jalan.
            Akh, tak ada yang aneh dengan bendera itu! Berwarna merah dan putih. Ukuran pun seimbang dengan tiang. Tak ada yang mesti diresahkan. Tapi memandang ke dalam rumah yang diisi sofa layaknya rumah huni, ada yang mengganjal di dalam hatiku. Kalau ini rumah pribadi, kenapa dipasang bendera setiap hari, selama dua puluh empat jam, dimulai sejak beberapa hari mereka tinggal di sini? Siapa gerangan penghuni rumah ini?
Aku masih berkerut mematut-matut tiang bendera ketika kudengar deheman di belakangku. Aku berbalik, dan kudapati lelaki pemilik rumah yang baru pulang entah darimana tengah berdiri dengan wajah tenang.
“Adakah yang salah dengan bendera itu Pak RT? Oh ya, silakan masuk, Pak RT.”
Aku yang sedikit terkejut dengan kehadirannya merasa malu. Tanpa menjawab, kuikuti langkahnya masuk ke dalam rumah dan duduk di ruang tamu. Kuperhatikan, hanya ada satu foto pernikahan ukuran jumbo terpampang di salah satu sisi dinding rumah yang berwarna abu-abu muda. Tak ada foto yang lain, atau bendera salah satu partai, atau penanda yang menunjukkan bahwa rumah ini kantor. Semua yang tampak mengindikasikan bahwa ini rumah pribadi.
Ia duduk di hadapanku.
Kami berbincang sejenak. Basa-basi biasa, menanyakan keluarga dan pekerjaannya. Dari ceritanya kuketahui bahwa lelaki itu adalah seorang guru di sekolah swasta, tanpa jabatan atau kedudukan apapun. Lalu aku beralih pada inti permasalahan, sesuatu yang kerap rusuh di dalam hati, keganjalan yang setiap habis jamaah di masjid selalu menggelitik akalku.
“Pak Hasyim, apakah rumah ini kantor, perusahaan, atau apa?”
Hari ini, aku mesti menemukan kepastian dan jawaban atas segala yang berkecamuk dan memenuhi kepalaku.
“Oh, bukan Pak RT. Ini rumah tinggal. Kenapa, Pak RT?”
Nah, nah! Ini rumah tinggal? Dadaku berderap.
“Ehm, kenapa dipasang bendera, Pak Hasyim? Sebab setahu saya, yang dipasang bendera itu rumah pejabat, kantor atau instansi pemerintah, sekolah, kapal, ....”
“Oh hohoho, bukan Pak RT. Bukan semuanya! Tapi boleh juga kalau rumah ini dianggap seperti kapal. Biduk rumah tangga yang saya nahkodanya, istri dan anak-anak adalah awaknya. Bukan begitu Pak RT?”
Ia tergelak. Aku hanya mampu memandangnya dengan senyum mengambang.
“Benderanya juga tak pernah diturunkan. Padahal lazimnya bendera diturunkan dari tiang ketika matahari terbenam. Kecuali....”
“Hohoho, itu lazimnya Pak RT. Tapi kalau perayaan 17 Agustus bendera boleh berkibar siang dan malam. Betul kan, Pak RT?” tandasnya.
“Iya, kecuali itu,” sahutku sedikit kesal. Sudah dua pertanyaanku yang dijawabnya asal dan terkesan main-main. Padahal bagiku, urusan Sang Merah Putih bukan urusan main-main! Ini urusan serius! Urusan pertumpahan darah ribuan bahkan jutaan pejuang di masa peperangan! Urusan hidup dan mati negeri! Urusan harga diri!

Aku pamit dari rumah itu dengan perasaan kalut. Lelaki aneh! Aku tak berani bicara banyak sebab aku pun tak mengerti urusan merah putih, kecuali pada penggunaan yang biasa dan lazim saja.
Maka keesokan harinya, aku bertanya pada beberapa orang di kantor kelurahan tempatku bekerja. Tak ada jawaban pasti tentang pemasangan bendera merah putih di rumah pribadi. Pemahaman yang sama seperti diriku, bahwa pemasangan bendera merah putih hanyalah di tempat yang lazim, pengibaran di waktu-waktu yang biasa seperti pada upacara bendera, atau pada perayaan-perayaan besar dan rutin terjadi saja.
Akh, payah betul mempunyai warga yang aneh sekaligus unik. Membuatku jadi kelibut, antara kagum pada keberaniannya menegakkan merah putih di rumah pribadi tanpa momentum tertentu atau ketakutanku bila itu pelanggaran. Sebagai Ketua RT, aku punya andil dan tanggung jawab terhadap kebaikan atau kesalahan warga yang dibiarkan.

Hari berikutnya, seusai shalat ashar di masjid aku tak langsung pulang, melainkan singgah ke rumah di ujung jalan, yang dari beranda masjid kulihat bendera di pekarangannya berkibar-kibar dihembus angin. Cuaca teduh. Udara dingin. Di langit awan hitam bergantung. Di jalan, tak nampak bayang tiang bendera atau bayang rumahnya.
Seperti kemarin, aku berdiri di bawah tiang memandang bendera yang terbentang. Merah putih melambai. Angin berhembus ditingkahi rintik hujan yang perlahan dan tenang. Aku masih mendongak dan tiba-tiba kulihat warna merah putih tak lagi rata. Merah bertambah pekat dan basah. Sebagian putih tak lagi putih dan berubah warna menjadi merah. Merah putih telah bercampur darah.
Aku melihat warna merah putih yang tak lagi sama. Aku melihat merah putih yang luntur. Aku melihat darah di kainnya yang berkibar. Aku melihat merah putih kotor dan berbau amis.
“Ada apa lagi dengan bendera saya, Pak RT?”
Aku terkejut bagai tersengat. Dadaku berderap. Wajahku pias dan peluh mengalir di dahi. Angin yang berhembus tak mampu redakan keringat bercampur gerimis. Kutatap dalam-dalam lelaki yang berdiri di teras rumahnya tak jauh dari tempatku berdiri, lalu pandanganku beralih pada bendera. Merah putih yang mulai basah tetap berkibar ditiup angin dan warnanya tetap sama seperti kulihat pertama kali datang kemari.
Aku beristighfar. Lelaki itu mengajakku berdiri di dekatnya sebab rinai telah berbulir-bulir di kopiah dan bajuku. Aku menurut. 
“Akh, ingin betul saya salat jamaah di masjid kita. Mudah-mudahan Maghrib nanti saya sudah bisa ke sana,” ucapnya begitu aku mendekat. Aku menyambutnya dengan hangat, lalu kembali membahas bendera di pekarangan rumahnya.
“Pak Hasyim, sore ini sebaiknya bendera diturunkan. Besok pagi baru dinaikkan kembali.”
“Akh, kenapa Pak RT? Biarkan saja bendera itu berkibar sepanjang waktu di rumah saya.”
“Pak Hasyim, berdasarkan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009, waktu bendera dinaikkan adalah pagi hingga sore hari. Antara matahari terbit dan saat matahari terbenam. Kecuali saat perayaan kemerdekaan, atau kalau mendirikan bangunan. Itupun jika telah menjadi kebiasaan bendera dipasang siang dan malam.”
Aku sedikit berani, sebab telah kujelajahi kitab undang-undang dan peraturan pemerintah di perpustakaan. Dan dari hasil pencarianku, tak ada aturan yang sesuai dengan pengibaran bendera di pekarangan rumah ini.
Ia tak segera menjawab. Wajahnya durja. Tiba-tiba  bendera merah putih yang dipenuhi darah, merah putih yang telah luntur, hadir memenuhi kepalaku. Aku gentar.
Apakah maksudnya?
“Pak RT, ini adalah bukti cinta saya pada merah putih. Biarkan ia berkibar selamanya di rumah saya. Pada hakikatnya, saya ingin menunjukkan bahwa saya betul-betul Indonesia. Bapak lihat, setiap perayaan 17 Agustus, tidak seluruh rumah memasang bendera. Bahkan rumah-rumah yang dipasang bendera pun sebagian hanya dari tiang bambu atau kayu biasa, yang kadang-kadang telah keropos, rusak, dan tua. Saya gelisah Pak RT. Untuk hiasan yang mewah, orang-orang sanggup membelinya. Tapi untuk menyiapkan tiang bendera, orang-orang berpikir ribuan kali. Jarang sekali orang-orang menyiapkan tiang bendera yang bagus dan permanen di depan rumahnya. Merah putih, bahkan sebagai simbol saja telah enggan disampaikan. Ia telah terkubur. Semangat ber-merah putih telah luntur.”
Aku diam. Mengiyakan meski hanya di dalam hati. Merasa malu, sebab aku termasuk orang-orang yang ia sebut.
“Seperti yang sudah saya bilang, anggap saja rumah ini kapal Pak RT. Saya nahkodanya, istri dan anak saya awaknya. Bila gedung yang sedang dibangun diperbolehkan memasang bendera siang dan malam, boleh juga rumah saya ini dianggap sebagai gedung yang sedang dibangun. Kami sedang membangun mental, juga kehidupan yang tak pernah berhenti selain telah mati. Betul, Pak RT?”
“Akh, undang-undang bahasanya tidak kiasan atau perumpamaan-perumpamaan seperti itu. Undang-undang bahasanya lugas!”
“Tapi banyak betul bahasa ambigu yang diucapkan pejabat-pejabat kita, Pak RT. Bukankah kita pandai bermain dengan kata-kata? Hukum dan aturan pemaknaannya bisa dibuat-buat!”
Dadaku rusuh. Ada-ada saja jawaban warga di hadapanku ini.
“Bendera ini pemberian ayah saya, yang dulu terus membawa merah putih ke dalam hatinya ketika bergerilya di masa peperangan, Pak RT. Ketika orang-orang telah melupakan hakikat merah putih dengan korupsi, caci maki, dan memecah-belah sesama anak ibu pertiwi, diam-diam ia mencari merah putih yang disimpan ibu dan menciumnya dengan air mata. Veteran yang terlupakan. Tapi tak pernah ada amarah dan hasratnya untuk dikenang, Pak RT. Ia hanya terlampau sayang pada negeri ini. Kini ia telah tiada.”
 Ada haru menyeruak di dalam kalbu. Mataku berkabut. Kepalaku kian berdenyut. Aku mahfum pada alasan-alasannya. Barangkali tindakan lelaki ini dapat menjadi pengecualian atau justru dibenarkan. Tapi tetap saja, urusan ini tidak boleh selesai dengan nostalgia dan membawa-bawa perasaan.
“Baiklah, Pak Hasyim. Tapi tolong, kibarkan saja bendera ini saat matahari terbit hingga matahari tenggelam. Lagipula, supaya merah putihnya tak cepat rusak,” ucapku akhirnya dengan suara perlahan. Aku mesti mempelajari lagi isi undang-undang atau bahkan konsultasi dengan pakar hukum tentang ini. Sebab sebagai Ketua RT, penyimpangan sedikit saja harus kuluruskan. Dan aku khawatir dianggap sebagai Ketua RT tak becus kalau ternyata ini pelanggaran dan kudiamkan.

*****


Cerpen ini pernah jadi Juara III dalam lomba menulis cerpen yang diadakan KAMB (Komunitas Ayo Menulis Bengkulu) dan dibukukan dengan judul Lukisan Merah Putih.




Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menulis cs Memasak Roti

Menulis cs Memasak Roti Menulis dan memasak roti, pastinya adalah dua kegiatan yang berbeda. Tapi meskipun berbeda, tak bisa dipungkiri bahwa kedua-duanya adalah kegiatan yang harus dilakukan terus-menerus. Agar menghasilkan tulisan yang baik, tentu seseorang harus terus menulis. Begitupun kalau ingin menghasilkan roti yang gurih dan lezat, tentu seseorang harus sering memasak roti. Sebagai proses, tentu ada fenomena-fenomena yang dihadapi pembuat roti atau si penulis. Ketika memasak roti hari ini, bisa jadi rotinya bantat. Esoknya, ternyata roti masih mentah meskipun di luar warnanya telah berubah coklat dan tampak matang. Bahkan lusa, roti yang dimasak tak mengembang karena kekurangan air dalam adonan. Lain waktu, roti mengembang dengan sempurna sehingga hati koki bahagia, tapi ternyata beberapa waktu berikutnya kue kempes dan berkerut bentuknya. Ah, begitu banyaknya alasan yang membuat seorang koki pemula akhirnya menghentikan ujicoba membuat roti yang gurih dan lezat! Seor...

Artikel Menulis

“ MENULIS BERSAMA” PADA PEMBELAJARAN MENULIS CERPEN Oleh Rumasi Pasaribu [1]             Menulis, bagi sebagian besar siswa merupakan sebuah masalah. Tak hanya siswa, gurupun terkadang mengalami berbagai kendala dalam menulis. Dimulai dari mencari ide atau inspirasi, menuangkan ide dalam kalimat pertama tulisan, mengembangkan tulisan menjadi paragraf-paragraf, kesulitan mencari judul, hingga menyunting tulisan menjadi sebuah tulisan yang padu, logis, dan sesuai dengan EYD. Semua masalah ini menjadi momok yang menakutkan bagi pembelajaran menulis kita.             Banyak teori dan cara praktis yang dilakukan oleh para pendidik maupun para ahli untuk meningkatkan kemampuan menulis siswa. Di toko buku, banyak buku teori praktis mengatasi kesulitan dalam menulis, baik fiksi maupun nonfiksi. Akan tetapi, pada praktiknya menulis tetap saja sesuatu yang sulit. Ditamba...