Firman
Venayaksa: Giatkan Taman Bacaan
dan
Gerakan Gemar Membaca
Oleh: Rumasi Pasaribu*
Gambar 1. Firman Venayaksa menyampaikan pemikirannya
Pekan
ini, Firman Venayaksa hadir di Café Art, Taman Budaya Kota Bengkulu dalam acara
diskusi dadakan yang diusung Kedai Proses pimpinan Edi Ahmad. Firman Venayaksa
yang sejatinya datang ke Bengkulu dalam rangka menghadiri acara Dinas
Pendidikan dan Kebudayaan Bengkulu, ternyata tak menolak saat diminta hadir
memberi pencerahan tentang dunia literasi pada hari Rabu, 16 November 2016.
Puluhan mahasiswa serta seniman kota Bengkulu hadir di malam diskusi, membuat surprise Firman Venayaksa. Ia tak
menyangka mendapat apresiasi luar biasa, dengan hadirnya jumlah peserta yang lebih
dari sekadar peserta kongkow di warung kopi.
Firman
Venayaksa, Ketua Umum Forum Taman Bacaan Masyarakat di Jakarta, dosen
Universitas Sultan Ageng Tirtayasa Banten, sekaligus penyair dan penulis
cerpen-essay yang karyanya dimuat di Kompas, Tempo, Republika, dll. ini membuka
diskusi dengan menceritakan kondisi Indonesia yang hanya menjadi peringkat 60
dari 61 negara dalam hal minat baca masyarakatnya. Minat baca warga Indonesia
lebih baik dari satu negara miskin di Afrika, Botswana. Kondisi yang
benar-benar memprihatinkan, sehingga dalam diskusinya dengan Menteri Pendidikan
di tahun 2015 (Anies Baswedan), muncullah ide Gerakan Indonesia Membaca, yang
produknya adalah kampung literasi.
Gerakan
Indonesia Membaca, bertujuan untuk meningkatkan gemar membaca masyarakat
Indonesia. Melalui gerakan ini, diharapkan akan muncul komunitas yang mengajak
orang membaca. Misalnya komunitas teater mengajak orang membaca, komunitas
penyair mengajak orang membaca, dsb. Di kampus yang lebih banyak belajar teori
membaca, juga diharapkan melahirkan mahasiswa yang gemar membaca, tak hanya
belajar teori membaca. Firman sendiri mengaku meminta mahasiswanya membaca,
minimal 10 buku dalam satu semester dan menulis laporannya.
Setelah
menyampaikan pemikirannya di bagian awal diskusi, Grace selaku pemandu acara
menawarkan pada peserta untuk menanggapi atau mengajukan pertanyaan. Selama
diskusi, ada beberapa pertanyaan yang disampaikan beberapa seniman Bengkulu,
yakni Elvi Ansori, Hafiz Gunawan, M.Pd., Rossy Mardianyah, dan Rudy Nofindra,
M.Pd. Secara umum, pertanyaan mengulas tentang bagaimana menyikapi mahasiswa
Bahasa Indonesia yang kurang terlibat dalam ruang sastra, persoalan buku yang
mulai terbit secara online, sastrawan dan kritikus di Indonesia, dan tahap
membuat sebuah taman bacaan. Sambil diselingi pembacaan puisi karya Firman
Venayaksa dari beberapa penyair Bengkulu, Firman menjawab satu persatu
pertanyaan dari peserta.
Gambar 2. Penyair Bengkulu Jayu Marsuis membacakan puisi karya Firman Venayaksa
Menyikapi
mahasiswa bahasa Indonesia dan sastra yang kurang terlibat dalam sastra, Firman
Venayaksa menyatakan bahwa sastra milik siapapun, jadi semua orang dapat saja
terlibat dalam sastra. Akan tetapi, meski demikian mahasiswa bahasa dan sastra
seharusnya lebih merasa terlibat. Tugas orang-orang yang studi bahasa dan
sastra seharusnya selain menjadi sastrawan, juga mesti menjadi kritikus, sebab
mereka memiliki ilmu seorang kritikus yang didapatkan melalui mata kuliah Kritik
Sastra. Jadi, orang bahasa dan sastra lebih mumpuni mengkritik secara akademis
karena ada pertanggungjawaban literer. Sebab mengkritik karya sastra bukanlah
mengkritik yang asal kritik.
Berkaitan
dengan buku yang diterbitkan secara cetak atau online, Firman tak terlampau
memperhatikan hal ini. Menurutnya, yang penting adalah persoalan membaca, bukan
tentang bukunya. Membaca adalah melambatkan/merenungkan. Dengan membaca, kita
merekonstruksi kehidupan. Karya sastra bisa menjadi jembatan itu.
Lantas,
bagaimana tahap membuat Taman Bacaan Masyarakat (TBM)? Firman Venayaksa
menjelaskan bahwa TBM harus didirikan lembaga kursus/komunitas/yayasan/PKBM,
bukan pemerintah. Setelah terbentuk, pengelola dapat mengajukan proposal ke
pemerintah, dalam hal ini adalah Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, bidang
pendidikan nonformal untuk mendapatkan izin operasional. Jika sudah mendapatkan
izin operasional, TBM boleh mengajukan permohonan bantuan. Akan tetapi, TBM
harus selalu aktif. Selain menjadi
tempat membaca, TBM juga dapat menyelenggarakan acara seperti diskusi buku,
bedah buku, atau diskusi kepenulisan.
Gambar 3. Firman Venayaksa membacakan puisi karyanya
Acara
terus saja beranjak. Selain penyair Bengkulu seperti Swend Dewa, Jayu Marsuis, Elvi
Ansori, Jeje Armina, dan Rossy Mardiasnyah membacakan puisi Firman Venayaksa, Firman Venayaksa pun tampil membacakan
puisinya di hadapan peserta. Selain itu, dua seniman Bengkulu juga tampil
membawakan musik gitar dan accordian, membuat suasana menjadi tak monoton. Hingga
tak terasa hampir pukul sebelas malam, diskusi ditutup pembawa acara, meski tak
semua penyair Bengkulu tampil membacakan puisi Firman Venayaksa. Demikianlah,
acara usai, tapi ilmu dan kedatangan penulis terkenal sekaligus ketua Taman
Bacaan Masyarakat adalah nutrisi bagi dunia sastra di Bengkulu.
*Guru
di SMPN 16 Kota Bengkulu
Artikel ini pernah dimuat di harian Bengkulu Ekspres pada hari Minggu, 18 November 2016



Komentar
Posting Komentar