Teacher Supercamp 2016:
Guru
Berintegritas Gerbang Generasi Emas
Oleh: Rumasi Pasaribu*
Pekan lalu, 1-5 November 2016, KPK (Komisi
Pemberantasan Korupsi) mengadakan Teacher Supercamp (TSC) 2016 bagi 50 guru
se-Indonesia. Kegiatan yang dilaksanakan di Nusa Dua, Bali ini diikuti 50 orang
guru se-Indonesia yang lolos seleksi dari KPK. Seleksi yang diikuti lebih dari
600 guru ini adalah seleksi menulis naskah komik, cerita bergambar, cerpen
anak, dan skenario film.
Menjadi peserta yang terpilih,
sungguh pengalaman yang luar biasa bagi saya. Kegiatan yang padat memang
membuat lelah, tapi semuanya terbayar dengan ilmu dan semangat yang ditularkan
para mentor. Ada Helvi Theana Rosa
(HTR), salah satu mentor yang membuat peserta TSC 2016 terharu. Di awal materi, HTR menceritakan
masa kecilnya bersama adiknya—Asma Nadia—yang tinggal di tepi
rel kereta api dan sering ke taman bacaan namun tak pernah dapat meminjam buku
karena tak ada uang. Selain itu, HTR dan Asma Nadia juga pernah mengamen dengan
membacakan puisi di bus demi membeli mesin tik. Kisahnya yang lain, yakni
saat menunggu naskahnya di sebuah penerbit selama berjam-jam tanpa kepastian,
lalu ternyata disuruh pulang dan diminta datang keesokan harinya. Kisah ini menginspirasi peserta TSC 2016, bahwa
menulis dan menerbitkan karya selalu punya tantangan dan dibutuhkan kesabaran.
Selain HTR, ada juga mentor lain yang mengisahkan betapa panjang proses menulis yang
dilaluinya. Hernowo Hasim, misalnya.
Penulis buku Mengikat Makna ini mengaku
melek menulis di usia lebih dari 40 tahun. Komikus Faja Ibnu Ubadillah atau yang lebih dikenal Faza
Meonk, juga memiliki proses yang panjang sebelum menjadi komikus terkenal.
Kreator komik Suzuki ini bahkan sampai ‘rela’ menghabiskan uang dan waktu untuk
menyebarkan komiknya secara gratis agar kekhas-an tokoh komik-nya dikenal
orang. Cara ini dianggapnya dapat membuat pembaca mengenal ciri khas tokoh di komiknya,
sehingga ketika ia menerbitkan komik di seri yang lain, orang-orang membelinya,
bahkan hingga membeli merchandise
(payung, pakaian, atau mug, dll.) bergambar tokoh komiknya.
Selain mentor di
atas, masih banyak mentor lain yang luar biasa ilmu dan pengalamannya dalam
bidang tulis-menulis. Ada Sweta Kartika, komikus Grey
dan Jingga, Rhamdani Benny selaku editor di Mizan Publishing dan penulis novel Garuda di Dadaku dan Mimpi Sang Garuda, Eva Nukman,
seorang penulis buku cerita bergambar, Gina S.
Noer penulis skenario Ayat-Ayat Cinta,
Habibi dan Ainun dan Perempuan Berkalung
Sorban, Achi TM, penulis skenario FTV di SCTV,
ANTV, dll. Peserta TSC 2016 dapat
berkonsultasi langsung dengan para mentor ini saat sesi bedah naskah yang
dilakukan sehari penuh. Pada sesi bedah naskah, masing-masing peserta TSC 2016
berkumpul sesuai dengan jenis naskah yang ditulisnya (cerpen anak, cergam,
komik, atau skenario film), untuk selanjutnya mendapat masukan dan kritikan
dari mentor terhadap tulisan yang telah dibuatnya.
Kegiatan TSC 2016
yang bertema “Guru Menulis Antikorupsi” ini bertujuan untuk mewujudkan
generasi yang jujur dan berkarakter. Melalui tulisan, guru
sebagai pendidik diharapkan memberikan nilai-nilai antikorupsi
sejak dini kepada murid-muridnya, dimulai dari murid sekolah PAUD hingga SMA. Hasilnya
barangkali belum dapat dinikmati tahun ini atau dalam waktu dekat. Bisa jadi sepuluh atau
dua puluh tahun yang akan datang, saat anak-anak yang didik guru sekarang telah
dewasa.
Lantas, apa saja yang dapat dilakukan
guru dalam menanamkan sikap antikorupsi pada anak-anak selain dengan menulis?
Berikut saya rangkum hal-hal yang dapat dilakukan guru
menurut mentor dari KPK, pakar pendidikan Prof. Dr. Arief Rachman, M.Pd., Totok
Suprayitno dari Litbang Kemdikbud, dan beberapa mentor lainnya.
1. Tidak
menerima hadiah apapun dari siswa atau orang tua siswa.
Istilah lainnya dari menerima hadiah
adalah grativikasi. Mentor TSC 2016 Farrah
Dina pernah punya pengalaman tentang ini saat berada di Jepang. Beliau ingin
memberikan hadiah pada guru berupa makanan, namun guru di sana menolak karena ini
dianggap menghina integritas guru. Prof. Dr. Arief Rachman, M.Pd. pun
punya pengalaman ini. Beliau ingin memberikan fotonya bersama seorang dosen yang telah ia cuci di studio
foto dan dibingkai, namun
dosen
tersebut menolaknya. Setelah lulus, dosen tersebut menanyakan foto itu
kepada Prof. Dr. Arief Rachman, M.Pd dan memberi penjelasan kenapa sebelum
Arief Rachman lulus ia menolak foto itu.
2. Tidak
membiarkan siswa mencontek.
Menurut
Totok Suprayitno, kasus mencontek di Indonesia luar biasa. Padahal,
sejatinya mencontek adalah perbuatan mencuri ide orang lain. Selain tidak membiarkan siswa mencontek, guru juga
harus memberi apresiasi pada siswa yang tidak mencontek. Tidak seperti dalam
kasus Abrar, seorang anak yang cukup pandai yang justru diminta membagi jawaban
kepada teman-temannya saat ujian. Abrar menceritakan hal ini pada ibunya, dan
ibunya melaporkan hal ini ke sekolah, namun tidak ditanggapi.
3. Penghargaan terhadap
karakter siswa sepanjang kegiatan sekolah.
Artinya, berikan pujian pada siswa
bukan karena fisiknya tetapi karena integritasnya, seperti kejujuran,
kedisiplinan, kerajinan, dsb. Sebab, integritas dapat dipelajari sementara
kondisi fisik adalah anugrah Tuhan YME.
4. Berkata
dengan bijak agar siswa juga berkata bijak.
Kata-kata sesungguhnya adalah perekat
hati. Sampaikan kejujuran dengan bijak, agar anak-anak merasa nyaman menerima
kata-kata guru.
5. Berikan
penegasan tentang antikorupsi dengan game/permainan.
Mentor Eko
Nugroho dkk. telah menciptakan game antikorupsi,
seperti Sahabat Pemberani. Permainan ini
dapat di-download secara gratis di smartphone. Melalui
permainan-permainan, guru
diharapkan dapat memberikan
pemahaman tentang nilai antikorupsi pada siswa dengan cara yang asyik dan tidak membosankan.
6. Berikan
nilai sebenarnya pada siswa, bukan karena kepentingan tertentu.
Memberikan nilai sebenarnya pada siswa
berarti mengajarkan kejujuran pada siswa. Guru tidak boleh memberi nilai karena
siswa anak teman/saudara, atau karena ada hal lain yang sangat subyektif.
7. Tanamkan
nilai integritas pada siswa sepuluh menit sebelum pelajaran dimulai.
Menanamkan nilai integritas pada siswa
dapat dilakukan sepuluh menit sebelum siswa belajar. Hal ini dapat dilakukan melalui kegiatan membaca atau
guru mendongeng.
Dalam menanamkan nilai antikorupsi, menurut Prof. Dr.
Arief Rachman, M.Pd., guru hendaklah fokus pada karakter dan sikap. Prof. Dr. Arief Rachman, M.Pd. dalam materinya menyampaikan bahwa
ada 21 nilai karakter, yakni (1) yakin akan kehadiran Allah swt., (2) Semangat
kerja keras, (3) Berpikir luas dan terbuka, (4) Berusaha untuk sanggup bekerja
dan bertanggung jawab, (5) Hangat, optimis, dan bersyukur, (6) Bersih, tertib,
dan rapi, (7) Berani untuk yang benar, (8) Bersedia memberi dan meminta maaf,
(9) Toleran kepada kekurangan, (10) Penolong, (11) Kreatif, imaginatif, (12) Mandiri,
(13) Mau belajar dan berpikir ilmiah, (14) Ajeg, konsisten memakai nalar, (15)
Halus perasaan, kasih, dan sayang, (16) Hormat, disiplin, dan taat azas, (17) Sopan
santun, (18) Dapat dipercaya, (19) Dapat mengendalikan diri, (20) Bersikap adil
dan sportif, (21) Berikhtiar dan tawakal kepada Allah swt.
Untuk mencapai
pembentukan karakter yang kuat, diperlukan guru yang kuat. Guru yang mendidik
mestilah guru yang berintegritas. Guru tak hanya memberikan teori atau hanya bicara
secara lisan saja, tapi harus memberi contoh melalui sikap dan tindakannya.
Dengan demikian, diharapkan akan muncul generasi muda yang berkarakter emas sehingga terwujud Indonesia
yang sehat dan bersih dari korupsi.
Demikianlah, di
akhir acara TSC 2016, para guru mengikuti outbond
di alam terbuka guna mengasah kemampuan berkolaborasi serta bersantai setelah
beberapa hari ‘digodok’ di dalam ruangan. Tawa dan lelah mengukir wajah para
guru saat menyelesaikan berbagai permainan di alam terbuka, untuk selanjutnya
mengikuti acara penutupan. Teacher Supercamp 2016 pun berakhir. Dan guru yang
berasal dari Aceh hingga Papua kembali ke daerah masing-masing, dengan membawa
cerita sendiri-sendiri.
*Guru di SMPN 16
Kota Bengkulu
Tulisan ini dimuat di Harian Rakyat Bengkulu, 10 November 2016


Komentar
Posting Komentar