Langsung ke konten utama

Ranah Publik Tak Jujur


RANAH PUBLIK YANG RENTAN KECURANGAN



Gambar salah satu SPBU


Aneh! Betul-betul aneh! Saat Pertamina mulai marak dengan program ‘Dimulai dari titik nol”, SPBU yang sering saya lewati ini malah mangkir. Setiap mengisi bbm, jarang sekali dimulai dari nol. Saat mengisi tangki kendaraan yang baru, petugas hanya melanjutkan harga bbm yang telah dibeli pembeli sebelumnya. Lebih dari itu, seringkali pula saat pembeli bbm membeli bbm seharga dua puluh ribu, bbm yang masuk ke tangki sepeda motor hanya delapan belas ribu beberapa ratus rupiah. Atau di waktu yang lain, sepeda motor yang mengisi bbm lima belas ribu mendapatkan bbm kurang dari itu. Ini terjadi berulang-ulang, hampir setiap saya mengisi bbm di tempat itu.

Apakah pembeli tidak pernah protes saat pengisian bbm kurang dari uang yang diserahkan? Bagaimana mau protes, kalau pembeli tak melihat jumlah bbm yang dimasukkan ke tangkinya. Lantas, bagaimana cara petugas pom bensin ini mengelabui pembeli, sehingga pembeli tak menyadari bahwa bbm yang masuk ke tangkinya kurang dari harga yang diminta?

Petugas di sini punya trik agar pembeli tak tahu berapa banyak bbm yang masuk ke tangki sepeda motornya. Sepeda motor yang sedang mengantre bbm diminta berbaris dua. Saat selang akan dimasukkan ke tangki, sepeda motor paling depan (yang akan diisi bbm) diminta sedikit maju dari kotak harga bbm. Tujuannya, pembeli tak mampu melihat daftar harga dan bbm yang masuk ke tangki sepeda motornya. Atau minimal, pembeli harus memutar kepala ke belakang untuk melihat kotak harga. Itupun belum tentu terlihat jelas sebab jarak yang lumayan dari kotak harga pertamina. Ditambah lagi, usai mengisi tangki sepeda motor yang satu, selang langsung pindah ke tangki motor lainnya. Ada petugas lain yang berdiri di sebelah kotak harga bbm, yang tugasnya mematikan jalannya bbm setelah petugas yang mengisi tangki mengangkat selang dan memasukkan selang ke tangki motor lainnya. Benar-benar gerakan tangkas dan cepat untuk membuat pembeli tak dapat melihat kotak harga pertamina. 

Menyadari kondisi ini, maka saya merasa aman saat pom bensin itu sepi. Sebab, saya tak perlu diminta maju dari kotak bbm, sehingga saya dapat melihat dengan jelas (bahkan dengan gaya melotot) berapa harga dan liter bbm yang masuk ke tangki sepeda motor saya. Dan karena kotak harga bbm tak di-setting seharga yang saya minta, misal memencet Rp 15.000 (sebab saya meminta diisi bbm Rp 15.000), ternyata bbm yang masuk ke dalam tangki berlebih beberapa sen atau rupiah. Tentu saja, sulit bagi petugas bbm menghentikan keluarnya bbm diharga yang tepat Rp 15.000.

Sesungguhnya, saya benar-benar prihatin dengan kejadian ini. Bila tak kepepet, saya lebih suka mengisi bbm di SPBU lain yang bertebaran di kota ini, yang petugasnya jujur, memencet harga dari angka nol, memencet harga di kotak harga pertamina sesuai dengan jumlah yang diminta sehingga bensin yang masuk ke tangki juga sesuai dengan harga yang diminta. Tanpa kelebihan atau kekurangan 1 sen-pun.

Ketika mengisi bbm di pom bensin yang oknum petugas-nya curang, saya ingin sekali marah, melaporkan ke pemerintah melalui sms di harian ibukota, atau menyebarkannya di medsos yang tanpa ‘tuan’ ini. tetapi sungguh, saya tak punya nyali. Saya hanya mampu menahannya di hati saya, dan saya sedih sebab saya teringat hadist yang mengatakan “ Barang siapa di antara kalian melihat suatu kemungkaran hendaklah ia mengubah dengan tangannya; jika tidak mampu maka dengan lisannya; jika ia masih tidak mampu, maka dengan hatinya dan itu adalah selemah-lemahnya iman” (HR Muslim). Ternyata iman saya masih lemah.

Baiklah, saya mencoba mengungkapkannya melalui kata-kata, yang saya tulis dengan tangan saya sendiri. Melalui tulisan ini, setidaknya saya sudah mencoba naik ke ‘level’ yang tidak ‘lemah’ lagi. Dengan tulisan ini, saya berharap ada yang membacanya, dan saya yakin tak hanya saya, pembeli bbm lain pun akan menolak kecurangan ini. Dan kalau oknum petugas ini menyadari bahwa beberapa ratus rupiah yang ia curangi sesungguhnya sangat berat pertanggung jawabannya di akhirat nanti, saya yakin tentu ia tak akan sanggup melakukan kecurangan ini.

Bagaimana cara menghilangkan kecurangan di ranah publik, menurut saya cara satu-satunya adalah dengan selalu merasa dilihat dan diawasi Allah. Tak ada yang luput dari pengetahuan-Nya. Rasa ini mesti dipelihara dan dipupuk, agar kita takut bila melakukan kecurangan. Selain itu, tumbuhkan hati yang selalu merasa cukup dengan apa yang diberikan-Nya, sambil terus berikhtiar untuk lebih baik lagi. Semoga Allah membuka hati petugas curang ini sehingga mereka menyadari kesalahannya. Semoga!




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerpen berjudul "Bendera"

CERPEN BENDERA  KARYA RUMASI PASARIBU BENDERA Oleh: Rumasi Pasaribu             Kalau kau susuri gang dan tiba di ujung jalan, maka akan kau lihat bendera itu berkibar-kibar. Bukan di kantor atau instansi pemerintah. Bukan di sekolah. Bukan di taman makam pahlawan. Bukan di gedung kabinet. Juga bukan di rumah pejabat. Tapi hanyalah di sebuah rumah sederhana yang empunya baru saja pindah. Bendera yang berkibar-kibar itu juga bukan dipasang karena negeri sedang berkabung. Bukan dikibarkan karena sedang memperingati kemerdekaan republik ini. Bukan juga ditancapkan karena sedang ada pawai atau perayaan-perayaan. Bukan! Dan aku hanya ternganga ketika hari-hari berikutnya bendera itu tetap melambai-lambai. Tiada henti selagi angin masih berhembus. Tiada turun walau gelap terhunus. Bendera itu terus berkibar tak kenal waktu.             Aku yang merasa aneh sekaligus...

Menulis cs Memasak Roti

Menulis cs Memasak Roti Menulis dan memasak roti, pastinya adalah dua kegiatan yang berbeda. Tapi meskipun berbeda, tak bisa dipungkiri bahwa kedua-duanya adalah kegiatan yang harus dilakukan terus-menerus. Agar menghasilkan tulisan yang baik, tentu seseorang harus terus menulis. Begitupun kalau ingin menghasilkan roti yang gurih dan lezat, tentu seseorang harus sering memasak roti. Sebagai proses, tentu ada fenomena-fenomena yang dihadapi pembuat roti atau si penulis. Ketika memasak roti hari ini, bisa jadi rotinya bantat. Esoknya, ternyata roti masih mentah meskipun di luar warnanya telah berubah coklat dan tampak matang. Bahkan lusa, roti yang dimasak tak mengembang karena kekurangan air dalam adonan. Lain waktu, roti mengembang dengan sempurna sehingga hati koki bahagia, tapi ternyata beberapa waktu berikutnya kue kempes dan berkerut bentuknya. Ah, begitu banyaknya alasan yang membuat seorang koki pemula akhirnya menghentikan ujicoba membuat roti yang gurih dan lezat! Seor...

Artikel Menulis

“ MENULIS BERSAMA” PADA PEMBELAJARAN MENULIS CERPEN Oleh Rumasi Pasaribu [1]             Menulis, bagi sebagian besar siswa merupakan sebuah masalah. Tak hanya siswa, gurupun terkadang mengalami berbagai kendala dalam menulis. Dimulai dari mencari ide atau inspirasi, menuangkan ide dalam kalimat pertama tulisan, mengembangkan tulisan menjadi paragraf-paragraf, kesulitan mencari judul, hingga menyunting tulisan menjadi sebuah tulisan yang padu, logis, dan sesuai dengan EYD. Semua masalah ini menjadi momok yang menakutkan bagi pembelajaran menulis kita.             Banyak teori dan cara praktis yang dilakukan oleh para pendidik maupun para ahli untuk meningkatkan kemampuan menulis siswa. Di toko buku, banyak buku teori praktis mengatasi kesulitan dalam menulis, baik fiksi maupun nonfiksi. Akan tetapi, pada praktiknya menulis tetap saja sesuatu yang sulit. Ditamba...