Langsung ke konten utama

Perayaan HUT PGRI ke-71 di Bengkulu


UPACARA HGN DAN HUT PGRI KE-71

DI PROVINSI BENGKULU


Gambar 1. Peserta HUT PGRI yang duduk di tenda

Kalau ingin melihat perayaan organisasi terbesar dan terbanyak, maka saksikanlah pada upacara HGN dan HUT PGRI. Berpusat di Sport Center Pantai Panjang Kota Bengkulu, ribuan guru berseragam batik PGRI berwarna hitam putih memadati panggung dan jalan raya. Kebanggaan menguar di wajah para pendidik anak bangsa ini. Mereka tampak antusias menghadiri acara, meski tak ada kudapan atau minuman.

Acara puncak yang dilaksanakan pada tanggal 30 November 2016 ini dihadiri Plt. Sekda Provinsi, beberapa anggota DPD, Sekda Kota Bengkulu, Walikota Bengkulu, dan pejabat-pejabat lainnya. Sebelum upacara HGN dan HUT PGRI dilaksanakan, ada beragam kegiatan yang dilaksanakan PGRI, seperti pertandingan tenis meja, bulu tangkis, bola voli, dan futsal. Pertandingan-pertandingan ini dilaksanakan pada tanggal 25-29 November 2016, bertempat di SMKN 1 dan SMPN 2 Kota Bengkulu.
Gambar 2. Penyerahan hadiah lomba

Selain bermacam pertandingan, PGRI Provinsi Bengkulu juga mengadakan acara Malam Pagelaran Seni dan Budaya. Pada malam ini, tidak seluruh guru yang diundang. Hanya pengurus PGRI serta kepala sekolah dan beberapa pejabat yang hadir. Di malam pagelaran ini, PGRI menampilkan pembacaan puisi dari seorang siswa yang berhasil membawa nama Provinsi Bengkulu pada FLS2N di Manado, yakni Rohana dan seorang siswi lainnya, Tari. Kedua siswa ini berasal dari SMPN 05 Kota Bengkulu. Persembahan lainnya adalah Solo Song dari siswa SMPN 01 Kota Bengkulu yang meraih Juara I FLS2N di Manado dan tari daerah persembahan siswa SMKN 5 Kota Bengkulu. Tak kalah seru, persembahan dari guru dan seniman Bengkulu berupa parade puisi berjudul “Sajak Sebatang Lisong” yang dibawakan Jayu Marsuis, S.Pd., Edi Ahmad, S.Pd., dan Eryanti, M.Pd. juga ditampilkan di sela-sela kata sambutan. Selain itu, juga terdapat acara penyerahan piagam penghargaan kepada 3 guru berprestasi dan penyerahan piala kepada para pemenang lomba pertandingan olahraga .
Gambar 3. Parade puisi "Sajak Sebatang Lisong"


Pada sambutan di malam pagelaran, Sekda Kota Bengkulu, Marjon M.Pd. memberikan semangat kepada para guru untuk mengubah cara berpikir, yakni dengan berpikir “organisasi” dan “pendidikan”. Beliau berharap para guru ada yang menjadi pejabat, sebab selain pejabat di Dinkes dan BNN, semua ranah bisa guru masuki. Marjon, M.Pd. juga mengingatkan para guru agar bekerja cukup di tempat kerja saja, sehingga tidak membawa pekerjaan pulang ke rumah. Hal ini dilakukan dengan catatan, selama bekerja para guru dan pegawai benar-benar bekerja dengan serius dan sungguh-sungguh, sehingga ketika pulang ke rumah, guru dapat memanfaatkan waktunya bersama keluarga. Selain itu, saat liburan, guru atau pegawai lain diharapkan dapat refreshing, bahkan hingga perlu jalan-jalan ke luar negeri. Tujuannya adalah supaya hidup seimbang.

Gambar 4. Marjon, M.Pd. menyampaikan kata sambutan
Acara PGRI tahun 2016 yang dilaksanakan di Kota Bengkulu, sejatinya dilaksanakan di daerah kabupaten Provinsi Bengkulu. Sudarwan Danim dalam sambutannya di Malam Pagelaran Seni dan Budaya menyatakan bahwa saat penentuan tuan rumah acara HUT PGRI tahun 2016, daerah kabupaten belum siap, sehingga Kota Bengkulu mengambil alih. Padahal di tahun sebelumnya, perayaan Hut PGRI juga dilaksanakan di kota Bengkulu. Ketua PGRI Provinsi Bengkulu ini mengharapkan agar daerah lain bernyali untuk merayakan HUT PGRI di daerahnya tahun mendatang.

Acara Malam Pagelaran Seni dan Budaya berlangsung hingga larut malam. Meskipun demikian, saat upacara HUT PGRI ke-71 keesokan harinya, para panitia dan dewan guru tetap bersemangat. Bahkan hingga siang, para guru masih asyik bernyannyi dan bergoyang dengan diiringi organ tunggal.

Pada HUT PGRI tahun ini, tidak semua program kegiatan terlaksana. Acara ziarah ke Taman Makam Pahlawan, mengunjungi kediaman guru terlama mengabdi, serta jalan-jalan ke Pulau Tikus adalah rancangan kegiatan yang dibatalkan. Meskipun tidak terlaksana, hal ini tidak terlampau mengurangi kemegahan HUT PGRI kali  ini, meskipun program ini diharapkan dapat dilanjutkan pada acara PGRI di tahun mendatang.

Usia PGRI telah matang. Seiring dengan usia yang tak lagi muda—jika diukur dengan usia manusia—tentu diharapkan para guru lebih berintegritas dan lebih baik lagi dalam memperjuangkan anak bangsa. PGRI juga harus lebih mengedepankan kepentingan seluruh guru, dari pengurus hingga anggota terkecil di ranting, sehingga PGRI tak hanya jadi milik pengurus saja. Sebab, seringkali kebijakan dan kerja pengurus PGRI tidak sampai ke anggota PGRI di Ranting, sehingga PGRI terkesan tidak memperjuangkan anggota atau bahkan tidak bekerja. Perlu adanya komunikasi berkesinambungan antara para pengurus dengan anggota, sebab bagaimanapun juga, anggota PGRI yang jumlahnya ribuan memiliki sumbangan besar sebagai tonggak PGRI. Tanpa mereka, PGRI tidak kuat dan hanya organisasi abal-abal saja. Pun sebaliknya. Solidaritas adalah yang utama.

Hidup PGRI!


*Foto-foto adalah dokumentasi pribadi, kecuali foto 1. diambil dari fb Septalena

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerpen berjudul "Bendera"

CERPEN BENDERA  KARYA RUMASI PASARIBU BENDERA Oleh: Rumasi Pasaribu             Kalau kau susuri gang dan tiba di ujung jalan, maka akan kau lihat bendera itu berkibar-kibar. Bukan di kantor atau instansi pemerintah. Bukan di sekolah. Bukan di taman makam pahlawan. Bukan di gedung kabinet. Juga bukan di rumah pejabat. Tapi hanyalah di sebuah rumah sederhana yang empunya baru saja pindah. Bendera yang berkibar-kibar itu juga bukan dipasang karena negeri sedang berkabung. Bukan dikibarkan karena sedang memperingati kemerdekaan republik ini. Bukan juga ditancapkan karena sedang ada pawai atau perayaan-perayaan. Bukan! Dan aku hanya ternganga ketika hari-hari berikutnya bendera itu tetap melambai-lambai. Tiada henti selagi angin masih berhembus. Tiada turun walau gelap terhunus. Bendera itu terus berkibar tak kenal waktu.             Aku yang merasa aneh sekaligus...

Menulis cs Memasak Roti

Menulis cs Memasak Roti Menulis dan memasak roti, pastinya adalah dua kegiatan yang berbeda. Tapi meskipun berbeda, tak bisa dipungkiri bahwa kedua-duanya adalah kegiatan yang harus dilakukan terus-menerus. Agar menghasilkan tulisan yang baik, tentu seseorang harus terus menulis. Begitupun kalau ingin menghasilkan roti yang gurih dan lezat, tentu seseorang harus sering memasak roti. Sebagai proses, tentu ada fenomena-fenomena yang dihadapi pembuat roti atau si penulis. Ketika memasak roti hari ini, bisa jadi rotinya bantat. Esoknya, ternyata roti masih mentah meskipun di luar warnanya telah berubah coklat dan tampak matang. Bahkan lusa, roti yang dimasak tak mengembang karena kekurangan air dalam adonan. Lain waktu, roti mengembang dengan sempurna sehingga hati koki bahagia, tapi ternyata beberapa waktu berikutnya kue kempes dan berkerut bentuknya. Ah, begitu banyaknya alasan yang membuat seorang koki pemula akhirnya menghentikan ujicoba membuat roti yang gurih dan lezat! Seor...

Artikel Menulis

“ MENULIS BERSAMA” PADA PEMBELAJARAN MENULIS CERPEN Oleh Rumasi Pasaribu [1]             Menulis, bagi sebagian besar siswa merupakan sebuah masalah. Tak hanya siswa, gurupun terkadang mengalami berbagai kendala dalam menulis. Dimulai dari mencari ide atau inspirasi, menuangkan ide dalam kalimat pertama tulisan, mengembangkan tulisan menjadi paragraf-paragraf, kesulitan mencari judul, hingga menyunting tulisan menjadi sebuah tulisan yang padu, logis, dan sesuai dengan EYD. Semua masalah ini menjadi momok yang menakutkan bagi pembelajaran menulis kita.             Banyak teori dan cara praktis yang dilakukan oleh para pendidik maupun para ahli untuk meningkatkan kemampuan menulis siswa. Di toko buku, banyak buku teori praktis mengatasi kesulitan dalam menulis, baik fiksi maupun nonfiksi. Akan tetapi, pada praktiknya menulis tetap saja sesuatu yang sulit. Ditamba...