Tak
Sekadar Semboyan “Aku Cinta Batik besurek”
“Balikla kau. Nontonla
sorang. Orang ndak nengok kau ngajak balik.”
Itu
percakapan seorang anak dengan ibunya saat menantikan rombongan karnaval batik
besurek tiba di Lapangan View Tower. Saya yang mendengarnya tersenyum, begitu
juga sang Ibu yang tampak tersipu begitu menyadari saya mendengarkan percakapan
mereka. Kami berdiri di simpang Rumah Sakit Bhayangkara, ditemani rintik yang hanya
datang sebentar. Cuaca benar-benar bersahabat, tidak terlalu panas dan tidak
hujan. Belum ada satupun rombongan karnaval yang datang saat percakapan itu
saya dengar. Yang terlihat hanya barisan siswa dan guru berseragam Batik
Besurek yang tak ikut pawai, juga warga yang berdiri di tepi jalan.
Kegiatan
Karnaval Batik Nusantara ini digelar bertepatan dengan hari lahirnya Provinsi
Bengkulu yang ke-48, tepatnya pada tanggal 18 November 2016. Acara Karnaval
Batik Nusantara yang diikuti puluhan ribu peserta digelar dalam rangka
memperkenalkan batik, khususnya batik besurek ke seluruh Indonesia. Karnaval
dibuka dengan mobil patroli dan pasukan bersepatu roda yang sebagian mengenakan
aksesori batik besurek. Di belakang pasukan bersepatu roda, puluhan ribu siswa
dan guru berseragam batik besurek mengiringi.
Percakapan
ibu dan anak di atas, adalah fenomena yang menarik untuk kita renungkan. Saya
menganalogikan sang ibu adalah generasi tua, dan anak adalah generasi muda. Meski
analogi ini akhirnya tidak bisa disamaratakan untuk seluruh generasi tua atau
seluruh generasi muda, tapi saya beranggapan bahwa ini adalah fenomena menarik
berkaitan dengan mewariskan batik besurek.
Lihatlah,
gambaran anak yang saya taksir usianya 10 tahunan itu bisa jadi adalah gambaran
keengganan anak-anak muda di Bengkulu dalam mengapresiasi budayanya. Kalau
tidak ‘dipaksa’ mengikuti karnaval, boleh jadi batik besurek tidak dikenal
generasi muda, khususnya anak-anak sekolah. Penggunaan batik di sekolah memang
sudah menjadi aturan di setiap hari Rabu dan Kamis, tetapi tidak semua sekolah
mengenakan batik besurek. Lagipula, penggunaan seragam betik besurek sudah
menjadi aturan di setiap sekolah, sehingga mengenakan seragam sekolah bermotif
batik besurek dianggap sesuatu yang biasa. Dengan adanya karnaval, batik
besurek menjadi tampak ‘istimewa’.
Berkaitan
dengan ini, saya sungguh mengapresiasi sikap sang ibu dalam menyambut Karnaval
Batik Nusantara. Ibu yang tidak mengenakan batik besurek itu saya taksir adalah
seorang warga di sekitar lokasi yang tidak bekerja dan sangat antusias
menyaksikan karnaval. Melihat di televisi tentu saja tidak salah, bahkan dapat
menambah informasi tentang karnaval yang belum tentu didapatkan di saat melihat
acaranya di pinggir jalan. Melalui televisi akan diperoleh banyak informasi
tentang karnaval, seperti sambutan pejabat daerah atau hal-hal yang berkaitan
dengan teknis karnaval. Tapi menyaksikan secara langsung para peserta pawai
mengenakan batik besurek, tentu adalah sebuah pengalaman batin yang pasti
berbeda dengan tidak ikut terlibat secara langsung. Selain itu, menyaksikan
secara langsung karnaval tentu menjadikan karnaval tampak meriah karena banyaknya
peserta dan penonton yang datang. Hal ini dapat menambah nilai plus pelaksanaan
karnaval budaya Bengkulu di mata nasional.
Kembali
pada percakapan ibu dan anak di atas, kalau seluruh generasi tua tetap
bersemangat mengenal budayanya, khususnya batik besurek, saya optimis batik
besurek akan tetap lestari di negeri ini. Peran orang tua sangat penting dalam
mengajak generasi muda menghargai warisan leluhurnya. Bayangkan bila generasi
tua tak bersemangat seperti generasi muda tadi, bisa jadi, ibu dan anak akan pulang
ke rumah tanpa menyaksikan kemeriahan karnaval secara langsung.
Lantas
bagaimana cara memebuat generasi muda mencintai batik besurek? Saya berasumsi,
selain perlunya generasi tua mengajak generasi muda mencintai batik besurek,
karnaval merupakan cara yang tepat untuk menumbuhkan cinta pada batik besurek.
Meskipun setiap hari Rabu dan Kamis siswa berseragam batik besurek, akan tetapi
penggunaan seragam batik besurek pada hari ini terkesan biasa. Adanya karnaval,
membuat batik besurek tampak semarak dan istimewa. Karena itu, karnaval
hendaklah tetap menjadi agenda rutin seperti acara tabot. Apalagi dengan adanya
spanduk-spanduk yang diusung pelajar seperti “Aku Cinta Batik Besurek”, “Kami
bangga pada Batik Besurek”, yang diharapkan menjadi cerminan sebenarnya dari
dalam hati para pelajar, tidak hanya sekadar semboyan belaka.
Karnaval
telah usai. Meski demikian, pada karnaval tahun ini, ada yang hendaknya menjadi
pembelajaran pada karnaval serupa di tahun mendatang. Adanya insiden
perkelahian oknum pelajar, membuat suasana karnaval sedikit terganggu. Selain
itu, tidak adanya tampilan drum band
seperti tahun sebelumnya di awal karnaval, membuat beberapa peserta dan
penonton berkomentar bahwa acara tidak terlampau meriah. Dentuman dan iringan
drum band sejatinya adalah pemberi semangat dan gairah untuk para peserta,
seperti tabuh genderang perang yang menjadi penyemangat prajurit saat
menaklukkan Turki di masa Muhammad Al Fatih. Maka dimulainya karnaval dengan
iringan drum band sebagai pembuka
seperti tahun lalu, layak dipertimbangkan di tahun mendatang. Demikianlah,
semoga cinta terhadap batik besurek terus bertambah, dan salah satu ciri khas
daerah Bengkulu ini tetap terpelihara.***


Komentar
Posting Komentar